Lombokfile.com – Gubernur NTB Dr. H. Zulkieflimansyah, S.E., M.Sc., prihatin dengan kondisi siswa SMAN 11 Mataram yang belajar di luar ruangan kelas. Hal ini diketahui diketahui Gubernur lewat media sosial (medsos), sehingga dirinya langsung melihat kondisi SMAN 11 Mataram di Majeluk, Kota Mataram, Selasa, 25 Januari 2022.
Saat tiba di SMAN 11 Mataram, Gubernur yang didampingi Inspektur pada Inspektorat NTB Ibnu Salim, S.H., M.Si., Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Drs. Samsul Rizal, M.M., Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) NTB Dr. H. Aidy Furqan, dan Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda NTB Drs. Sahnan serta Kepala SMAN 11 Mataram Sunoto.
Gubernur menyempatkan meninjau kantin SMAN 11 Mataram sambil menanyakan harga produk atau jajanan yang dijual. Bahkan, saat keluar dari kantin, Gubernur NTB bertemu dengan guru dan wali kelasnya waktu SMA H. Aminudin. Gubernur langsung memeluk dan mencium tangan gurunya yang kini berposisi sebagai Pengawas Kota Mataram dan Lombok Barat di Dinas Dikbud NTB. Sampai akhirnya datang Ketua Tim Penggerak PKK NTB Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah dan rombongan.
Gubernur dengan tetap memegang tangan dari gurunya waktu SMA ini menunjukkan pada Bunda Niken – sapaan akrab Hj. Niken Saptarini Widyawati Zulkieflimansyah. Bahkan, dengan nada bercanda Gubernur menyebut, jika posisi Kepala Dinas Dikbud tergantung dari H. Aminudin. Sampai akhirnya Gubernur dan beberapa pimpinan OPD duduk di berugak masih mengenang bagaimana dirinya waktu masih SMA. Termasuk bagaimana saat sekolah Gubernur juga mengaku mencontek pada beberapa teman kelas, salah satunya teman kelasnya bernama Eva yang waktu itu menjadi bintang kelas. Sementara H. Aminudin menceritakan bagaimana Dr. Zul waktu masih SMA yang jago dalam Bahasa Inggris, sedangkan dirinya waktu itu, mengaku tidak bisa.
Gubernur menanyakan pada Kepala SMAN 11 Mataram Sunoto terkait persoalan yang dihadapi siswa dan guru. Sunoto yang juga mantan Kepala SMAN 6 Mataram ini, menjelaskan, jika saat musim hujan siswa tidak maksimal belajar, karena kondisi ruang kelas yang tidak mencukupi. Dengan hanya bangunan yang terdiri dari 4 ruang belajar belum representatif untuk belajar.
Untuk itu, pihaknya mengharapkan pemerintah provinsi segera memberikan izin penggunaan bangunan milik pemerintah yang ada di dekat sekolah. Terutama, rumah-rumah dinas yang berada di Kawasan Majeluk Mataram dan tidak disewakan pada pihak ketiga.
Mendengar hal ini Gubernur meminta BPKAD, Inspektorat dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) segera menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa. Bahkan, lebih spesifik Gubernur menanyakan pada Kepala BPKAD Samsul Rizal, terkait kepastian kapan rumah dinas yang berada di bawah kewenangan pemerintah provinsi segera bisa dipergunakan oleh pihak sekolah untuk belajar sambil menunggu pembangunan gedung dilakukan. Namun, Gubernur juga mengingatkan agar menghargai pihak ketiga yang menyewa rumah dinas dengan menanyakan baik-baik.
Menurutnya, rumah-rumah dinas yang berada di dekat sekolah ini sangat dibutuhkan oleh siswa, sehingga jika akan meminta penyewa keluar dari rumah dinas harus mengganti di tempat lain yang lebih baik. Namun, proses pembicaraan harus dilakukan dengan baik-baik, sehingga tidak merugikan banyak pihak.
Gubernur juga memastikan pada tahun 2022 ini, Pemprov NTB akan melengkapi fasilitas dan sarana prasarana yang lebih memadai di SMAN 11 Mataram. Fasilitas berupa penambahan ruang kelas dan guru serta laboratorium akan dibangun pada tahun ini.
Kepala BPKAD NTB Samsul Rizal mengaku siap menjalankan perintah Gubernur dan akan mencarikan rumah dinas yang lebih baik bagi penyewa di lokasi yang lain.
Sementara Kepala Dinas Dikbud NTB H. Aidy Furqan, menjelaskan jika SMAN 11 Mataram ini sudah memasuki usia 2,5 tahun dan Juni 2022 berusia 3 tahun. Selain itu, pada bulan Juni ini juga akan menamatkan pertama dan memiliki 4 lokal. Alasan belum ada penambahan ruang kelas baru, karena karena di daftar pokok pendidikan (dapodik) tidak menyiapkan ruang kelas, kalau jumlah siswanya belum sesuai kebutuhan.
‘’Misalnya sekarang ini punya 4 ruang kelas, tapi 7 rombongan belajar (rombel) berarti ini butuh 3 ruang kelas. Supaya butuh 3 dan dipecah-pecah dia. Akhirnya saya mintakan ke Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, semua laboratorium, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang Tata usaha, dapat dengan nilai Rp3,86 miliar. Insya Allah Maret bisa dieksekusi,’’ ujarnya.
Sementara penambahan ruang kelas, ujarnya, pada tahun 2023. Nanti yang masuk pada tahun ajaran baru bisa memanfaatkan ruang laboratorium untuk belajar, termasuk bisa belajar di luar kelas.
‘’Terkait pembangunan laboratorium sudah ada di dekat sekolah seluas 1,7 hektar. Semula totalnya 2 hektar, tapi dipakai untuk jalan umum, gang dan masjid yang dimanfaatkan masyarakat tersisa 1,7 hektar. Sementara yang layak untuk sekolah itu 1 hektar,’’ tambahnya.
Diakuinya, jika bangunan sekolah ini sudah selesai dibangun, pihaknya merasa lega, karena bisa mengatasi kebutuhan sekolah masyarakat di Mataram zona timur. Selama ini, rata-rata semua sekolah di barat, karena sekarang ini pemerintah memberlakukan sistem zonasi dalam penerima siswa. (red)















































