Lombokfile.com – Tim Ekspedisi Sejarah Situs dan Kebudayaan yg dipelopori oleh PDIP NTB dan Mi6 dihajatkan untuk mengejawantahkan ajaran Bung Karno terkait Jasmerah / Jangan Melupakan Sejarah / di tengah pesatnya  kemajuan Budaya Modern dan Teknologi 4.0. Hal ini agar ajaran para leluhur tetap eksis dalam  menopang keberagaman akar budaya berbangsa dan negara. 

Tim Ekspedisi Sejarah juga  difokuskan untuk mengungkap dan menelisik sejarah masa lalu dalam scope yg terbatas agar cerita rakyat yang terserak bisa terangkai menjadi satu kesatuan Peristiwa Kebudayaan Besar masa lalu Suku Sasak khususnya yang saling berkaitan nasabnya. 

“Ada indikasi kuat  cerita rakyat dalam skala kecil tersebut terkesan terabaikan oleh hegemoni sejarah ‘BESAR’ yang terkesan kurang kuat referensi dalam  menjelaskan  hubungan hulu hilir,” ujar Direktur Lembaga Kajian Sosial Politik Mi6, Bambang Mei Finarwanto, SH melalui siaran pers kepada media , Kamis ( 16/6 ) . 

Pria yang akrab disapa didu ini menambahkan inisiatif pembentukan tim ekspedisi sejarah ini sekaligus untuk memberikan edukasi dan pembelajaran guna mengaktualisasikan ajaran nenek moyang lewat penelusuran petilasan/ artefak maupun ragam manuskrip/ catatan kuno yg terserak di berbagai tempat. 

“Tim Ekspedisi Sejarah meyakini pasti ada  ‘rahasia besar’ yang tersembunyi / belum terungkap di balik serangkaian penemuan situs atau petilasan di berbagai lokasi di NTB ,” ujar didu 

Mantan Direktur Walhi NTB ini menambahkan dibalik berbagai kejadian sejarah yg terbungkus dalam mitos atau cerita rakyat yg populer ada pesan yang hendak disampaikan oleh para leluhur , meskipun terkadang mitos / folklore itu kerap tidak masuk akal secara logika karena tidak memiliki sandaran referensi  yang kuat. 

“Misalnya dalam konteks asal muasal desa besari yang hilang. Ada berbagai versi yang menjadi latar belakang terkait keturunan dan peran kedatuan besari dimasa lalu sebelum dianggap hilang,” ulasnya. 

Untuk itu guna memastikan keterkaitan kisah sejarah antar satu wilayah / kedatuan dengan yang lain , lanjut didu perlu keterlibatan pemerintah dan arkeolog dalam  mengungkapkan  lebih jauh hubungan sebab akibat dibalik penemuan berbagai artefak kebudayaan kuno tersebut. 

“Dengan berbagai keterbatasan yang dimiliki, Tim Ekspedisi Sejarah akan terus mengexplore berbagai kisah rakyat yang berkembang dalam lingkup terbatas agar mendapat perhatian dan atensi publik yang meluas agar menjadi perhatian serius  stakeholder, ” tukasnya.

Agenda Ekspedisi Sejarah

Didu menginfokan untuk agenda berikutnya dalam waktu dekat, Tim Ekspedisi Sejarah akan Hunting menelisik eksistensi kedatuan benue yang diduga berada di dusun dasan lekong , desa selebung Lombok Tengah. Hal ini tercermin dari penemuan berbagai artefak dan manuskrip kuno yang diinfokan oleh warga setempat kepada tim ekspedisi mistis. 

“Menurut keterangan beberapa warga yang mendatangi Tim Ekspedisi, mereka menginginkan Tim untuk menelisik lebih jauh peninggalan situs petilasan yang diduga kuat dari kedatuan benue untuk diungkap ke publik,” katanya. 

Lebih jauh didu menjelaskan Tim Ekspedisi juga akan menelusuri lebih jauh menginvestigasi secara faktual  keberadaan masjid kuno yang diduga kuat peninggalan putera mahkota raja seran II dikawasan Rumbuk Seran, Lombok Timur. 

“Nanti akan ada testimoni dari tokoh maupun  keturunan rumpun  Rumbuk Seran yang mengetahui kronologi ekspedisi Putra Mahkota Raja Seran. Ini untuk menjawab motivasi dan ada apa di desa Rumbuk saat itu sehingga Putra Mahkota harus menetap di Rumbuk Seran? ,” pungkasnya. (*)