Lombokfile.com -Warga Dusun Pegadungan Senanga, Desa Sambik Elen, kecamatan Bayan, An. I KETUT PUTRA YASA , mengumpulkan Donasi SERUPIAH untuk merabat akses jalan utama Pendakian Senanga Pegadungan.
Karena merasa kena FRENK terus oleh pemerintah, yang janji merabat mengaspal sejak tahun 2015 dan terakhir 2022, akhirnya Ketut Kiul meminta simpati kluarga , warga dan teman- temanya untuk berdonasi Serupiah dua rupiah seiklasnya untuk Rabat jalan ditempat itu yang sudah rusak parah.
Ternyata masih ada jiwa – jiwa Relawan seperti komunitas pendaki ELING LELUHUR dari Mataram , menyambut baik perjuangan Ketut Kiul dengan memberikan sumbangan dana bahkan turun langsung ikut bergotong royong merabat jalan tersebut.Warga ditempat ini berjumlah sekitar 50 KK,
Dengan semangat gotong royong yang tinggi baik pria dan wanita ikut bergotong royong, karena hanya itu akses jalan yang mereka lalui dalam beraktifitas sehari – hari.
Dana yang terkumpul dari Serupiah dua rupiah itu, diperdayakan dengan seksama guna merabat titik-titik jalan yang rusak parah.
Terharu melihatnya , karena Akan cintanya dengan tanah Air Indonesia, Sebelum dan sehabis bergotong royong, selalu disertai HORMAT BENDERA MERAHNPUTIH dan MENYANYIKAN LAGU INDONESIA RAYA, seraya berteriak GOTONG ROYONG YOOO..GOTONG ROYONG YOOO.
Selain Itu Warga Mataram IBU SINARSIH,
yang saat itu ikut berdonasi dan berpartisipasi gotong royong, Mengharap pemerintah bisa membantu pembangunan jalan tersebut dan jalan ini adalah jalan Pendakian ke Rinjani yang harusnya diperhatikan pemerintah.
Selain itu Warga setempat yg kerap dipanggil HAMBARWATI, mengungkapkan bahwa Susahnya jadi rakyat miskin terpencil, sekedar jalan baik saja mereka tak punya, dan hanya didatangi saat pemilihan Kades & Bupati , dengan janji- Janji palsu , Ngefrenk melulu.
Ini terjadi di era Bupati sekarang pak tua Djohan Sjamsu 2022 ngefrenk perbaikan jalan,
Selanjutnya H. Najmul 2010-2015, pernah juga hadir di Senanga Pegadungan meresmikan jalur pendakian Rinjani Pegadungan Senanga, dengan janji mengaspal jalan pendakian ditempat tersebut (Ngefrenk ) nol koma kosong.
Ketut Kiul menambahkan , Jalan yang rusak parah dan bisa dikata tak layak untuk dilewati sekitar 4 km lebih.
Medan yang rusak parah.menyebabkan IBU HAMIL yang melalui jalan ini bisa melahirkan di jalan ini.
Jalan menanjak dan memanjang tambah rusak parah dengan batu lepasnya, menyulitkan warga selama beraktivitas bahkan kerap menyebabkan kecelakaan membahayakan jiwa dan merusak kendaraan.
Warga an NENGAH NULELENG, menyampaikan bahwa Hasil pencarian warga yaitu bertani kopi , coklat , kelapa , durian, Panili dan lain-lain lain, yang mana hasil kopi relatif bagus dan I Nengah Buleleng sudah mampu membuat kopi olahan sendiri yang bernama Robusta dan Arabika Senanga duta Rinjani.
Selain bertani warga juga beternak sapi dan kambing, namun akses jalan rusak tentu meningkatkan pengeluaran transfortasi pengangkutan hasil panen maupun peternakan.
Namun kembali karena Kena janji – janji palsu ( FRENK) perbaikan jalan, warga ditempat ini membanting tulang , tak perduli pria wanita semua turun Gotong Royong, swadaya serupiah dua rupiah, dan sukur dibantu oleh warga perduli dari Mataram seperti komunitas pendaki Eling Leluhur.
Ia pun berkata ” Tolonglah kami ” uang seribu serupiahmu sangat berharga dan membantu kami, sehingga donasi sumbangan2 dia dan warga harapkan untuk Merambat Jalan disana.
Dengan dana seadanya tersebut mereka semeter dua meter mampu mengecor titik jalan yang rusak parah.
“Mediasi Desa, Kecamatan , Pemda + Bupati sudah sering namun Kenak FRENK saja alias nol koma kosong sambungnya.
Jalur ini landai sehingga banyak diminati dan ramai dilalui pendaki. Singkatnya Ikuti saja jalan ini sampailah kita di Danau Segara Anak
“Warga bendamba jalan yang bagus, Jangan Di FRENK trus.”
Warga rutin membayar pajak tepat waktu, hak jalan layak tak didapatkan.
Seraya berterima kasih atas bantuan donasi sukarelawan semuanya terutama Semeton ELING LELUHUR Mataram, yang berdonasi dana dan turun langsung Gotong Royong, Semoga masih banyak lagi yang perduli dan Semoga Pemerintah tidak Ngefrenk lagi.
Bendera kita Merah Putih, kami warga NKRI, Kami berharap Keadilan, Helai kata terakhir Ketut Kiul dengan napas agak tersenggal mata sedikit berlinang sedih.
NKRI HARGA MATIIII…
(*)












































