Lombokfile.com – Kehadiran sirkuit Mandalika yang akan menggelar sejumlah event motorsport internasional dinilai menjadi kebanggaan NTB. Namun euforia berlebihan terkait dampak ekonomi dari keberadaan sirkuit, harus realistis.
Ketua DPW Partai Beringin Karya Provinsi NTB, Abdul Sarif menilai, saat ini keberadaan sirkuit Mandalika disambut dengan euforia luar biasa. Baik oleh pejabat Pemda maupun masyarakat secara umum.
Seolah paduan suara, pendapat semuanya hampir seragam. Ada dampak peningkatan ekonomi yang sangat besar dengan adanya sirkuit Mandalika dan beragam event yang digelar.
“Sehingga seolah-olah sirkuit ini menjadi satu-satunya jalan mengubah keadaan ekonomi masyarakat. Itu yang kita lihat dan rasakan sekarang ini,” ujar Abdul Sarif, di Mataram.
Menurutnya, tak ada salahnya menyambut gembira keberadaan sirkuit berkelas internasional di kawasan strategis pariwisata nasional (KSPN) Mandalika di Lombok Tengah.
Namun disisi lain, masyarakat juga harus diberikan gambaran utuh mengenai dampak ekonominya. Jangan sekadar diberi mimpi-mimpi manis yang masih di awang-awang.
“Saat ini kan seolah gambaran masa depan ekonomi NTB seluruhnya digantungkan pada keberadaan sirkuit. Jadi, seperti tak ada pilihan lain selain pariwisata sebagai sektor pembangunan andalan,” katanya.
Ia mengatakan, opini yang dibangun saat ini seakan masyarakat ditarik perhatiannya kepada event sport tourism dunia yang sejatinya adalah bisnis entertainment yang melibatkan pemodal multinasional.
“Rasanya belakangan ini tak ada pejabat daerah yang tak membicarakan dampak ekonomi menyusul kehadiran sirkuit. Padahal jika mau jujur sektor pariwisata bukan satu-satunya harapan untuk memajukan daerah. Lebih-lebih sirkuit sebagai ajang bisnis tentu saja meletakkan dampak sosial ikutan sebagai urutan terakhir yang bebannya nanti akan menjadi tanggung jawab pemimpin daerah,” ujar dia.
Ia mencontohkan bagaimana Provinsi Bali yang memiliki pengalaman panjang mengandalkan dunia pariwisata, ternyata tak memberikan dampak nyata terhadap perekonomian rakyat.
Mengutip statement Gubernur Bali di hadapan Komisi II DPR RI Oktober lalu, Sarif mengatakan, Gubernur Bali I Wayan Koster pun mengakui sektor pariwisata lebih banyak memberi manfaat kepada pemodal.
“Bagaimana dengan kita di NTB?. Apakah keyakinan akan dampak ekonomi keberadaan sirkuit ini sudah melalui studi terhadap masyarakat sudah melalui studi dan kajian ilmiah?,” ujarnya bertanya.
Syarif mengatakan, berbicara dampak ekonomi harus berdasarkan data dan analisa. Semua pertumbuhan tentu ada tahapan-tahapan dan strateginya.
Ia menilai perlu kajian-kajian ekonomi yang melibatkan kampus-kampus dan ahli ekonomi untuk dampak positif kawasan Mandalika.
Sarif mengingatkan kembali saat Senggigi sedang booming dua dekade lalu. Kemudian saat Bandara Selaparang Mataram berpindah ke BIL. Saat itu euforia yang hampir sama terjadi, bahwa keberadaannya akan meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Memang ada. Hanya saja, segelintir orang saja yang terbukti merasakan manfaat dari keberadaan pariwisata Senggigi atau kawasan wisata lainnya. Toh sampai saat ini belum ada kajian tentang itu,” katanya.
Sarif meminta pemerintah Provinsi NTB dan juga Kabupaten Lombok Tengah, tidak hanya sekadar mmmembangun optimisme belaka. Tetapi perlu langkah-langkah konkrit.
Menurutnya dalam jangka panjang tentu KSPN Mandalika akan sangat terasa manfaatnya bagi masyarakat. Tetapi untuk saat ini, ada banyak sektor lain yang lebih riil dan membutuhkan sentuhan untuk dipercepat kemajuannya seperti sektor pertanian, peternakan, perkebunan, dan juga perikanan.
“Harusnya pemda lebih cermat dan mendorong perekonomian yang sebaiknya di bangun dari bawah terutama di sektor-sektor yang banyak melibatkan masyarakat. Bukan malah menggembar-gemborkan mercusuar ekonomi yang dampaknya sangat minim dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Sarif menambahkan, pihaknya tidak mengecilkan peranan sektor pariwisata bagi pembangunan daerah. Hanya saja, dalam kondisi saat ini, masyarakat terutama di tingkat bawah, lebih membutuhkan program yang kongkrit dan menyentuh mereka secara langsung.
“Istilahnya, garap dulu lah yang sudah di depan mata, dan jangan terlalu membesar-besarkan sesuatu yang kita tahu perhitungannya sangat mungkin meleset,” tukasnya. (*)














































