Kegiatan Literasi Keuangan dan Peningkatan Kapasitas ini diikuti tak kurang dari 75 orang perempuan pekerja wisata, terdiri dari para pemandu lagu dan freelancer.
Hadir sebagai narasumber antara lain, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah NTB Ari Garmono, Corporate Communication Bank NTB Syariah, Arief Sanjani, dan Wakil Ketua PHRI NTB, Ernanda Agung Dewobroto.
Satria Zulfikar mengatakan, kelompok perempuan pekerja wisata ini juga merasakan dampak pandemi di sektor pariwisata. Bedanya, kemampuan pengelolaan keuangan yang masih relatif masih rendah dan gaya hidup yang konsumtif membuat mereka menjadi kelompok rentan secara ekonomi.
“Sehingga secara sosial juga mereka menjadi rentan, bisa terjerumus mendapatkan uang mudah dari peredaran narkoba atau pun prostitusi terselubung,” ujar dia.
Sementara di sektor kepariwisataan, keberadaan mereka juga masih dipandang sebelah mata. Padahal, mereka punya potensi untuk mempromosikan destinasi-destinasi yang ada di daerah ini. Terutama disaat sektor pariwisata kembali menemukan geliatnya selepas pandemi nanti.














































