Senin, April 27, 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Cyber
Lombokfile.com
  • Headline
  • Hukrim
  • Lifestyle
  • Ekbis
  • Ekobis
  • Lifestyle
  • Pendidikan
  • TNI-Polri
  • Login
  • Register
No Result
View All Result
Lombokfile.com
Home Headline

Manusia yang Hilang dalam Imaji Air Api

LOMBOKFILE.COM by LOMBOKFILE.COM
Rabu, 25 Juni 2025
in Headline
0
Manusia yang Hilang dalam Imaji Air Api
0
VIEWS

Lombokfile.com -Puisi-puisi di buku Imaji Air Api adalah simbol “perlawanan” dan punya “tugas kenabian”. Bahkan penulisnya sudah tidak punya maksud apa-apa lagi, kecuali mendapatkan ridha publik.

Demikian disampaikan oleh Prof. Abdul Wahid saat membuka kegiatan Pagelaran Sastra dan Diskusi Buku Imaji Air Api Karya Agus K Saputra, yang diselenggarakan Taman Budaya Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), Rabu (25/06).

Related posts

Ambang Batas Dibahas, Pendidikan Politik Terlupakan? Ini Peringatan Direktur Mi6

Ambang Batas Dibahas, Pendidikan Politik Terlupakan? Ini Peringatan Direktur Mi6

Minggu, 26 April 2026
Lansia NTB: Bukan Beban, Melainkan Aset Sosial dan Kompas Moral Generasi Muda

Lansia NTB: Bukan Beban, Melainkan Aset Sosial dan Kompas Moral Generasi Muda

Kamis, 23 April 2026

Sama dengan puisi-puisi ini. Penulis saya kira bukan karena apa-apa. Bukan karena ingin mendapatkan posisi-posisi tertentu atau keuntungan-keuntungan tertentu. Tapi semata-mata untuk mendapat ridha publik.

“Tergugah hati saya dan mengimajikan sebuah peristiwa yang dialami oleh seorang sufi besar perempuan Rabiah al-Adawiah,” ujar Prof. Wahid. Begini ceritanya:

Suatu hari, Rabiah al-Adawiah berjalan di jalan dengan memegang air di tangan kiri dan lilin di tangan kanan. Ketika ditanya oleh seseorang, “Apa yang kamu lakukan, wahai Rabiah?” Rabiah menjawab, “Aku ingin memadamkan api neraka dengan air di tangan kiriku ini, dan aku ingin membakar surga dengan api lilin di tangan kananku ini.”

Rabiah ingin menunjukkan bahwa kecintaannya kepada Allah tidak didasarkan pada harapan akan surga atau takut akan neraka, tetapi karena cinta yang tulus kepada Allah sendiri. Ia ingin memurnikan niatnya dan menunjukkan bahwa ibadahnya hanya untuk Allah, bukan karena imbalan atau hukuman.

Kisah ini menggambarkan kedalaman spiritualitas Rabiah al-Adawiah dan komitmennya untuk mencari cinta dan keridhaan Allah semata. Ia menjadi contoh bagi banyak orang dalam memahami makna sejati dari ibadah dan cinta kepada Allah.

“Sama dengan puisi-puisi ini. Penulis saya kira bukan karena apa-apa. Bukan karena ingin mendapatkan posisi-posisi tertentu atau keuntungan-keuntungan tertentu. Tapi semata-mata untuk mendapat ridha publik,” kata salah satu penulis buku Heterarki Masyarakat Muslim Indonesia ini.

Bahkan, lanjut Prof. Wahid, sebagai penulis, dia sudah mati. Dia sudah berjarak lagi. Ketika buku diterbitkan dan menjadi milik publik. Maka kita sendiri yang akan menafsirkannya.

Oleh karena itu, ketika doa-doa yang menggunakan bahasa-bahasa agama tidak lagi membumi, maka puisi yang harus membumikannya. Puisi punya tugas untuk membebaskan manusia dari belenggu-belenggu itu.

Puisi juga punya tugas menggugah kesadaran ilahiyah, kesadaran kita tentang Tuhan, tentang energi batin yang tidak dieksplor oleh orang. Yang tidak disadari oleh orang. Seolah kehidupan ini secara material semata-mata. Maka puisi mengambil bagian kecil kitab suci untuk membangkitkannya.

“Bukankah kita pun mengetahui, puisi-puisi ini lahir dari kegamangan, keresahan seorang penyair tentang kondisi-kondisi buruh, orang-orang terpinggirkan, orang-orang yang sering kali dilupakan oleh sejarah. Maka puisi harus mengambil “tugas kenabian”. Puisi mempunyai tugas profetik,” pungkas Prof. Wahid

Manusia yang Hilang

Iin Farliani sebagai pembedah buku puisi Imaji Air Api mengatakan bahwa kata imaji mempunyai sifat keserentakan. Sifat keserentakan adalah salah satu sifat puisi. Membaca puisi yang baik membuat kita bisa mengalami pengalaman keserentakan. Segala imaji yang bertabur dihamparkan dalam satu tebasan. Satu kata bisa memunculkan banyak imaji. Sebagaimana sifat puisi yang bermain di wilayah ambigu.

“Mari kita telaah puisi berjudul Imaji,” ujar Iin.

 

Imaji

 

imaji kerap membelit

di lingkar hidup

penuh gejolak

 

adakah kau tahu

ketika ia memberontak

melepas semua kesemuan

 

mata hatinya kelam

membungkus secawan noktah

hingga ajal menjelang

 

Kemaraya, 1 Mei 2019: 12.25

Bait pertama puisi Imaji, memunculkan pertanyaan apakah puisi hanya hadir saat hidup penuh gejolak? Lalu dengan kata membelit apakah ia hadir sebagai sesuatu yang positif atau negatif? Beberapa kata yang dekat dengan membelit: mengikat, melibatkan. Di sini larik yang terbaca kemudian lebih dekat pada sesuatu yang melawan. Sebab di bait selanjutnya ada kata memberontak, lalu di bait terakhir mengesankan sesuatu yang membelit itu sebagai hal yang kelam. Kelam yang seakan berlangsung abadi dan hanya bisa diputus bila ajal menjelang. Dari keterhubungan makna antar bait, di sini tampaknya puisi memang dipandang hanya akan hadir membelit, bila sedang berada dalam situasi hidup yang penuh gejolak. Karena itulah puisi tercipta.

“Dalam pembacaan berikutnya, saya tidak menemukan adanya subjek yang tunggal yang bisa saling terhubung di puisi yang satu dengan yang lain. Dalam pembacaan yang berulang lagi, saya menemukan bahwa subjek yang bisa kita bayangkan sebagai “manusia”, ternyata telah hilang dalam kebanyakan puisi-puisi di buku ini.” ucap Iin, alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Mataram.

Yang lebih cenderung muncul, tambah Iin, adalah kehadiran benda-benda yang dilekatkan dengan sifat manusia. Benda-benda yang menyandang sifat manusia ini terutama kita temukan kehadirannya pada puisi-puisi paruh awal di buku ini, diantaranya pada puisi Harapan Para Jelata (Hal.17) terdapat larik gelas kosong menyendiri.

Puisi berjudul Perahu Koyak (Hal.18), bait pembukanya langsung menghidupkan sebuah benda perahu koyak menepi/meninggalkan gegap gempita, lalu perahu itu dikatakan nyalinya perlahan karam/berakhir sudah daya upaya.

Benda yang me-manusia juga bisa dibaca pada puisi Nafas Kehidupan (Hal.19) : sepasang sepatu teronggok/di ujung hati paling sepi… ia tetap menunggu/ rinai hujan menjadi kawan/. Selanjutnya sebagai “benda-benda yang me-manusia”, dalam bentuknya yang paling tajam bisa kita baca di puisi Daun Kering (Hal.24).

Kecenderungan puisi-puisi di buku imaji air api (2025), bagi Iin mengantarkannya pada pertanyaan berikutnya tentang bagaimana sesuatu yang bisa disebut hidup itu? Bila kita tak merasa ada manusia yang meng-ada dengan hidupnya, lebih tergantikan oleh kehadiran benda-benda yang menyandang sifat manusia, di manakah kemudian batas antara yang hidup dan yang mati itu?

“Pertanyaan serupa ini pun dihadirkan buku ini melalui puisi Kidung Kematian (Hal. 28): bagaimana harus bercerita/padamu merpati cantikku/manakala sayap tak ada. Apakah ia tetap sesuatu yang hidup manakala sayapnya tak ada? Apakah sayap yang tak ada tetap menjadikannya merpati?,” tanya Iin.

Dengan kecenderungan menyandingkan sifat manusia pada benda-benda yang tampak dalam buku ini, justru Iin memberi petunjuk yang menarik bahwa hal ini bisa menjadi pilihan pergulatan estetika puisi-puisi Agus K. Saputra di masa mendatang.

”Fokus utama bisa pada pencarian kreatif seputar puisi-puisi suasana, lebih bertumpu pada imaji nuansa ketimbang pada subjek yang terang serupa manusia. Pada kebanyakan puisi-puisi di mana yang benda lebih terlihat meng-ada dibandingkan yang manusianya, tersimpan tawaran imaji yang menarik sekaligus menantang,” tandas 5 (lima) besar Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa 2025 Kategori Kumpulan Cerpen, lewat karya Mei Salon, ini.

 

Lanskap Gersang

Bagi penata letak dan desain cover Tjak S Parlan, puisi-puisi Agus K Saputra dalam himpunan Imaji Air Api, kerap membentangkan suasana musim kering –lanskap berwarna gersang, baik secara terang benderang maupun bersembunyi di antara pengimajinasian larik-larik kata.

Diksi seperti ‘kering’, ‘mengering’, ‘kemarau’, ‘membatu’, ‘berguguran’, ‘dahaga’, ‘berserakan’, ‘peluh’, telah mempertegas citraan visual lanskap berwarna gersang tersebut, (hal. 67).

“Bagi saya, puisi Harapan Para Jelata mencoba menghamparkan ‘musim kering’ yang bisa saja menggiring asosiasi pembaca kepada musim paceklik –sebagai sebuah metafora dari kemiskinan yang merupakan bagian dari krisis besar akibat pandemi, resesi ekonomi, menipisnya ketersediaan pangan yang membuat harga kebutuhan pokok tidak terjangkau oleh sebagian kalangan masyarakat kelas bawah (baca: rakyat jelata) dan kita tahu penyakit kronis yang bernama krisis ini (bisa saja) terjadi karena perubahan iklim. Sawah dan ladang yang gagal panen, hutan dan sungai yang kering akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dalam memperlakukan lingkungan,” tulis Tjak Parlan (hal. 69).

Lanskap Gersang, tambah Tjak Parlan, juga bisa dirasakan pada beberapa puisi lainnya. Puisi “Pulang Membawa Rezeki” merupakan tanggapan sosial terhadap masyarakat “kalangan bawah”, dengan latar suasana yang benar-benar kering kerontang. Bau pengap tumpukan sampah yang terpanggang matahari, peluh yang bercucuran mempertajam suasana tersebut. Namun demikian, puisi ini tidak menyerahkan dirinya pada puncak kesedihan. Agus K Saputra justru memberikan cercah harapan –bahkan kebahagiaan—lewat senyum seorang perempuan (ibu) (hal. 78).

Simbol Tokoh Buruh

Agus K Saputra dalam kesempatan ini mengatakan bahwa proses kreatif Imaji Air Api adalah berawal dari Peringatan May Day, 1 Mei 2019, yang dikenal juga sebagai Hari Buruh Internasional.

“Hari itu Rabu, 01-05-2019 pukul 12.25 saya berusaha mewujudkan imaji tentang sosok buruh Indonesia hingga keesokan harinya Kamis, 02-05-2019 pukul 13.05. Ini bisa dilihat di titik mangsa waktu yang tertera, tak satupun saya berhasil mewujudkan nama itu,” ujar Agus.

Menanggapi hal ini, Dimas Valentino dalam tanggapannya menyebut nama almahumah Marsinah.

“Clue-nya adalah pertama, diksi air sebagai kaum marginal dan diksi api sebagai para penguasa. Kedua, di halaman persembahan dengan nyata tertulis ‘teruntuk kawan-kawan buruh di mana pun berada, dengan nyala peluhnya’,” kata Dimas disambut riuh peserta diskusi lainnya.

Pagelaran dan diskusi ini menampilkan Sak Sak Dance Production dengan mengalihwahanakan puisi Air Api. Sedangkan Pantjoro Sumarso musikalisasi puisi Mayapada, Mau Jadi Apa Kamu Kelak, dan Pusara Ibu. (*)

Tags: Air dan apiBedah bukuTaman budaya
Previous Post

Museum NTB kembali Memperkenalkan Budaya Melalui Pameran Nasional di Bali

Next Post

Lalu Gita Ariadi Pamit dari Jabatan Sekda NTB, Mengabdikan Diri sebagai Dosen IPDN

Next Post
Lalu Gita Ariadi Pamit dari Jabatan Sekda NTB, Mengabdikan Diri sebagai Dosen IPDN

Lalu Gita Ariadi Pamit dari Jabatan Sekda NTB, Mengabdikan Diri sebagai Dosen IPDN

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Oplus_16908288

BERITA LAINNYA

Ketentuan Pidana dalam Hukum Kesehatan di Indonesia

Ketentuan Pidana dalam Hukum Kesehatan di Indonesia

3 tahun ago
Saksi Ahli Tak Hadir, Penasehat Hukum Made Santi: Klien Kami Sangat Dirugikan!

Saksi Ahli Tak Hadir, Penasehat Hukum Made Santi: Klien Kami Sangat Dirugikan!

3 tahun ago
Amankan Perayaan HUT Kemerdekaan, PLN Imbau Penggunaan Layang-Layang

Amankan Perayaan HUT Kemerdekaan, PLN Imbau Penggunaan Layang-Layang

2 tahun ago
Polda NTB Paparkan Anev Hasil Operasi Patuh Rinjani 2023, Ini Capaiannya

Polda NTB Paparkan Anev Hasil Operasi Patuh Rinjani 2023, Ini Capaiannya

3 tahun ago

BROWSE BY CATEGORIES

  • Ekbis
  • Ekobis
  • Headline
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik
  • TNI-Polri

FOLLOW US

  • 87.1k Followers

BROWSE BY TOPICS

2018 League Bali United Bank NTB syariah BBPOM Bima BPOM Budget Travel Chopper Bike DPRRI Gerindra Gubernur NTB Hbk Headline Istana Negara Kapolda NTB Kursi roda Lombok Lombok barat Lombok tengah LOMBOK TIMUR M16 Mandalika Market Stories Mataram Motogp MXGP Ntb Pasokan listrik Pdip Pelantikan Pemprov ntb Pilkada NTB PJ gubernur ntb PLN PLN UIW Polda NTB Polres lotara Polresta Mataram Ramadhan Rohmi firin Sirkuit mandalika Sumbawa UMKM UU ITE WSBK

POPULAR NEWS

  • Marc Marquez Terpelanting Ke Empat Kalinya di Tikungan 7 Sirkuit Mandalika

    Marc Marquez Terpelanting Ke Empat Kalinya di Tikungan 7 Sirkuit Mandalika

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Istri Dituntut 1 Tahun Bui karena Memarahi Suami Mabuk, Kejagung Periksa Jaksa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sirkuit Mandalika Tuan Rumah MotoGP seri Kedua, Netizen Malaysia Meringis

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KTM Berjaya, Miquel Oliveira Merajai di MotoGP Mandalika!! 

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Jalan Lapen Perumahan Elite Kota Mataram Asri Diduga Sarat Masalah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

We bring you the best Premium WordPress Themes that perfect for news, magazine, personal blog, etc.

Follow us on social media:

Recent News

  • Ambang Batas Dibahas, Pendidikan Politik Terlupakan? Ini Peringatan Direktur Mi6
  • BBPOM Mataram Kenalkan SAKA POM dan Edukasi Obat dan Makanan Aman kepada Pramuka Ponpes Darul Iman Bentek
  • Lansia NTB: Bukan Beban, Melainkan Aset Sosial dan Kompas Moral Generasi Muda

Category

  • Ekbis
  • Ekobis
  • Headline
  • Hukrim
  • Kesehatan
  • Lifestyle
  • Olahraga
  • Opini
  • Pariwisata
  • Pendidikan
  • Politik
  • TNI-Polri

Recent News

Ambang Batas Dibahas, Pendidikan Politik Terlupakan? Ini Peringatan Direktur Mi6

Ambang Batas Dibahas, Pendidikan Politik Terlupakan? Ini Peringatan Direktur Mi6

Minggu, 26 April 2026
BBPOM Mataram Kenalkan SAKA POM dan Edukasi Obat dan Makanan Aman kepada Pramuka Ponpes Darul Iman Bentek

BBPOM Mataram Kenalkan SAKA POM dan Edukasi Obat dan Makanan Aman kepada Pramuka Ponpes Darul Iman Bentek

Jumat, 24 April 2026
  • Redaksi
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Cyber

© 2023 | Lombokfile.com | Hak cipta dilindungi Undang-undang

No Result
View All Result
  • Headline
  • Lifestyle
  • Hukrim
  • Ekobis
  • Ekbis
  • Pendidikan
  • TNI-Polri

© 2023 | Lombokfile.com | Hak cipta dilindungi Undang-undang

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In